
Dr. Chairul Hamdani (kiri), Ester Sihite (tengah), dan Darus Salam (kanan) dalam diskusi mengenai tantangan rekrutmen tenaga kerja di industri sawit, Program Kabar Sawit, Rabu (19/02/2025).
Jakarta, HAISAWIT – Program Kabar Sawit kembali hadir pada Rabu (19/02/2025) di kanal YouTube Haisawit. Episode ini membahas tantangan rekrutmen tenaga kerja di industri sawit dan bagaimana memenuhi kebutuhan SDM yang sesuai dengan kualifikasi.
Dr. Chairul Hamdani SP. MBA, Managing Partner High Management Consultant, menyampaikan bahwa tantangan utama dalam rekrutmen tenaga kerja sawit bukan hanya soal jumlah, tetapi juga bagaimana memastikan tenaga kerja memiliki kompetensi yang sesuai.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Darus Salam, Ketua Harian DPP HIPKASI, mengungkapkan bahwa berdasarkan perhitungan, industri sawit membutuhkan sekitar 55.000 hingga 60.000 tenaga kerja untuk ditempatkan di perkebunan. Jumlah tersebut diperoleh dari rasio satu staf yang mengelola sekitar 250 hingga 300 hektar lahan kelapa sawit, dengan total luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 16 juta hektar.
Menanggapi hal ini, Chairul Hamdani menilai bahwa kebutuhan tenaga kerja tersebut sebenarnya bisa terpenuhi. Namun, tantangan utamanya terletak pada minat dan kesiapan calon tenaga kerja untuk bekerja di perkebunan.
"Kalau saya melihat, pemenuhan angka 55.000 itu bisa dipenuhi baik dari jalur sarjana maupun vokasi, atau bahkan dari pengembangan mandor. Tapi kalau kita hanya melihat dari jalur sarjana, banyak yang bertanya-tanya ‘kok tidak dapat kerja?’. Sebagian dari mereka juga bingung, tempatnya di mana?" ujar Chairul Hamdani.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat ada seseorang yang menitipkan CV anaknya. Saat ditanya soal penempatan kerja, sang ayah justru ragu jika anaknya harus bekerja di perkebunan.
"Baru kemarin ada teman saya nitip CV anaknya. Bapaknya yang nanya, 'Ini penempatannya di Jakarta atau di kebun?' Lalu dia bilang, 'Kalau di kebun gimana? Anak saya senang olahraga nih.’ Jadi ketakutan itu diperbesar oleh orang tuanya sendiri. Akhirnya, karena perkataan ayahnya, si anak jadi ragu dan tidak melanjutkan," tambahnya.
Darus Salam menegaskan bahwa industri sawit sebenarnya berbasis di perkebunan, bukan di Jakarta.
"Padahal, industri sawit itu kan bisnis utamanya di kebun, bukan di Jakarta," ucapnya.
Chairul Hamdani mengamini hal tersebut dan menambahkan bahwa banyak orang yang tetap bertahan di industri ini hingga usia lanjut dan hidup dengan sangat sejahtera.
"Lihat saja beberapa teman saya yang akhirnya terus berada di industri ini. Di masa tuanya mereka sangat makmur, punya kebun 10, 20, 30 hektar. Mereka menabung dan akhirnya memiliki kebun sendiri. Itu sesuatu yang tidak bisa didapatkan di Jakarta," ungkapnya.
Darus Salam juga menyampaikan bahwa angka kebutuhan tenaga kerja di industri sawit sangat besar.
"Angka 55.000 sampai 60.000 itu sebenarnya luar biasa. Peluang untuk bekerja di industri sawit sangat besar. Tapi, seperti yang disampaikan Pak Chairul, ada faktor yang membuat keinginan bekerja di perkebunan melemah, misalnya karena ketidaksiapan beradaptasi dengan lingkungan baru," jelasnya.
Diskusi dalam acara ini menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam melihat industri sawit sebagai pilihan karier. Kesempatan di sektor ini terbuka luas, tetapi kesiapan mental dan kesediaan untuk bekerja di perkebunan menjadi tantangan utama bagi banyak calon pekerja.***