Mengapa Uni Eropa Memusuhi Sawit Indonesia? Ini Jawabannya

Indonesia terus memperjuangkan haknya di WTO menghadapi diskriminasi Uni Eropa terhadap minyak sawit yang kompetitif

BERITA

HLS Redaksi

30 Agustus 2024
Bagikan :

Jakarta, HAISAWIT – Uni Eropa terus menaruh sikap negatif terhadap produk minyak kelapa sawit (CPO) asal Indonesia. Hal ini terungkap dalam sebuah dialog spesial yang digelar oleh CNBC Indonesia, Kamis (29/08/2024), di mana Ketua Bidang Kampanye Positif GAPKI, Edi Suhardi, memberikan pandangan yang mendalam mengenai alasan di balik sikap tersebut.

Menurut Edi, salah satu alasan utama Uni Eropa memusuhi sawit Indonesia adalah karena produk CPO yang dihasilkan jauh lebih murah dan kompetitif dibandingkan minyak dari tanaman lain seperti sunflower dan rapeseed yang dihasilkan di Eropa.

“Mereka punya perkebunan sunflower dan rapeseed. Biaya produksi dan bahan baku hingga prosesnya jauh lebih mahal. Jadi kelapa sawit dilihat over kompetitif dan tidak bisa disaingi,” ujar Edi dalam Trade Corner Special Dialogue CNBC Indonesia, Kamis (29/08/2024), seperti dilansir dari laman resmi GAPKI, Jumat (30/08/2024).

Lebih lanjut, Edi menjelaskan bahwa demi melindungi produk dalam negeri mereka, Uni Eropa kemudian menerapkan berbagai hambatan perdagangan terhadap minyak sawit Indonesia. Beberapa hambatan tersebut meliputi bea masuk anti dumping, tuduhan subsidi yang tidak adil, serta berbagai regulasi yang memberatkan lainnya.

Langkah-langkah ini tidak hanya menimbulkan kerugian bagi para produsen sawit di Indonesia, tetapi juga membuat Indonesia harus menghadapi berbagai gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Kita juga tengah menghadapi gugatan WTO tentang biodiesel, dari 2 gugatan fatty alkohol, 5 tahun berusaha menang. Kemudian tentang bea masuk anti dumping biodiesel, tetapi dengan kemenangan ini UE 2019, ada lagi 2 kasus tentang energi terbarukan,” ujarnya.

Edi juga menyoroti peran Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang sangat proaktif dalam menangani kasus-kasus ini di tingkat internasional. Ia menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling aktif dalam memperjuangkan hak-hak industri sawitnya di WTO.

“Saya sangat menghargai dorongan dan tekanan dari Kemendag yang telah membawa kasus-kasus ini pada level yang luar biasa. Indonesia paling proaktif di sawit,” kata dia.

Dalam menghadapi tantangan dari Uni Eropa, Indonesia terus berupaya untuk memperkuat posisinya sebagai produsen sawit terbesar di dunia. Upaya ini termasuk memperjuangkan kepentingan industri sawit di forum-forum internasional serta melawan segala bentuk diskriminasi yang merugikan produk sawit Indonesia.

Dengan latar belakang kompetitif yang kuat, minyak sawit Indonesia diprediksi akan terus menjadi ancaman bagi produsen minyak nabati lainnya di Eropa. Meski demikian, tantangan dari Uni Eropa juga semakin memotivasi Indonesia untuk memperkuat industri sawitnya dan membuktikan bahwa produk CPO Indonesia tetap unggul di pasar global.

Bagikan :

Artikel Lainnya