Anggota DPD RI Amaliah Sobli menyebut Sumatera Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan berbasis kelapa sawit, terutama dari biomassa dan biogas yang dapat mendukung transisi energi nasional
Arsad Ddin
1 April 2025Anggota DPD RI Amaliah Sobli menyebut Sumatera Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan berbasis kelapa sawit, terutama dari biomassa dan biogas yang dapat mendukung transisi energi nasional
Arsad Ddin
1 April 2025Anggota DPD RI Amaliah Sobli mengungkapkan potensi energi terbarukan dari kelapa sawit Sumatera Selatan di pertemuan Green South Alliance di Jakarta, Kamis (28/11/2024). (Foto: sumsel.dpd.go.id)
Jakarta, HAISAWIT - Anggota DPD RI, Amaliah Sobli, menyatakan bahwa Sumatera Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan berbasis kelapa sawit. Menurutnya, sumber daya biomassa dan biogas dari industri sawit dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk mendukung transisi energi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan saat menghadiri pertemuan yang membahas peluang energi terbarukan di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, di Green South Alliance – Energy Transition Convening yang digelar di Jakarta pada Kamis (28/11/2024).
Dilansir laman DPD RI Sumsel, disebutkan bawh berdasarkan data tahun 2020, Sumatera Selatan memiliki luas area perkebunan kelapa sawit mencapai 1.543.833 hektare. Dari luasan tersebut, potensi limbah biomassa yang dihasilkan cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Dalam forum tersebut, Amaliah Sobli menyampaikan bahwa Sumatera Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan dari kelapa sawit.
"Kita harus fokus pada potensi lokal dalam pengembangan energi terbarukan. Sumatera Selatan, misalnya, memiliki sumber daya biomassa dan biogas yang melimpah dari industri kelapa sawit dan karet, yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi secara berkelanjutan," ujar Amaliah, dikutip laman DPD RI Sumsel, Selasa (01/04/2025).
Menurutnya, pemanfaatan limbah sawit sebagai energi alternatif bisa menjadi langkah strategis dalam transisi energi nasional. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sumber daya lokal ini dapat dikembangkan lebih luas.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa pengembangan energi terbarukan dari kelapa sawit dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Pengembangan energi terbarukan dari sumber daya lokal diharapkan dapat mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," katanya.
Saat ini, pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050. Kontribusi dari sektor kelapa sawit dinilai dapat mempercepat pencapaian target tersebut.
Sumatera Selatan menjadi salah satu daerah dengan produksi sawit terbesar di Indonesia. Potensi limbah sawit di wilayah ini dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sebagai energi alternatif.
Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat mengembangkan teknologi pengolahan biomassa sawit secara lebih luas. Hal ini bertujuan agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal dan berkelanjutan.
Penggunaan energi dari limbah sawit dinilai dapat memberikan manfaat ganda, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Selain mengurangi limbah industri, pemanfaatan biomassa dan biogas juga dapat menjadi sumber energi bersih di masa depan.***