Data GAPKI Januari 2025 menunjukkan ekspor dan konsumsi sawit melemah, sementara stok mengalami kenaikan signifikan.
Arsad Ddin
31 Maret 2025Data GAPKI Januari 2025 menunjukkan ekspor dan konsumsi sawit melemah, sementara stok mengalami kenaikan signifikan.
Arsad Ddin
31 Maret 2025(Foto: gapki.id)
Jakarta, HAISAWIT - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) merilis data terbaru mengenai kinerja industri sawit pada Januari 2025. Laporan menunjukkan adanya penurunan konsumsi dan ekspor, sementara stok mengalami peningkatan.
Total produksi minyak sawit mentah (CPO) pada Januari 2025 mencapai 3,828 juta ton, lebih rendah dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 4,237 juta ton. Produksi minyak inti sawit (PKO) juga mencapai 356 ribu ton, sehingga total produksi CPO dan PKO sebesar 4,184 juta ton.
Dilansir laman GAPKI, Senin (31/03/2025), konsumsi minyak sawit dalam negeri pada Januari 2025 tercatat sebesar 1,871 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan konsumsi Desember 2024 yang mencapai 2,187 juta ton.
Penurunan konsumsi terbesar terjadi pada sektor pangan, yang hanya mencapai 758 ribu ton, turun dari 961 ribu ton pada bulan sebelumnya. Konsumsi biodiesel juga mengalami penurunan menjadi 916 ribu ton dari sebelumnya 1,046 juta ton.
Sementara itu, konsumsi oleokimia justru mengalami kenaikan menjadi 197 ribu ton dari sebelumnya 180 ribu ton. Meskipun demikian, peningkatan ini belum mampu menutupi penurunan pada sektor lainnya.
Ekspor minyak sawit juga mengalami penurunan. Pada Januari 2025, total ekspor tercatat sebesar 1,960 juta ton, turun 100 ribu ton dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 2,060 juta ton.
Ekspor oleokimia tercatat turun dari 428 ribu ton pada Desember 2024 menjadi 388 ribu ton. Ekspor CPO juga turun tajam dari 69 ribu ton menjadi 39 ribu ton.
Produk olahan CPO yang diekspor tercatat sebanyak 1,449 juta ton, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,465 juta ton.
Jika dilihat dari negara tujuan ekspor, penurunan terbesar terjadi ke Pakistan, China, India, Malaysia, dan Amerika Serikat. Sebaliknya, ekspor ke Uni Eropa dan beberapa negara di Afrika mengalami kenaikan.
Ekspor ke Pakistan turun sebesar 53% menjadi 199 ribu ton, sedangkan ekspor ke China turun 42% menjadi 197 ribu ton. India mencatat penurunan 36%, sementara Malaysia dan Amerika Serikat masing-masing turun 41% dan 22%.
Di sisi lain, ekspor ke Uni Eropa meningkat sebesar 53% atau bertambah 69 ribu ton. Ekspor ke Afrika juga mengalami kenaikan 18%, termasuk ekspor ke Mesir yang naik 73% menjadi 37 ribu ton.
Harga minyak sawit mentah di Rotterdam juga mengalami penurunan. Pada Desember 2024, harga tercatat sebesar US$1.313 per ton, namun pada Januari 2025 turun menjadi US$1.208 per ton.
Penurunan volume ekspor dan harga menyebabkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia menurun. Pada Januari 2025, nilai ekspor tercatat sebesar US$2,274 miliar, lebih rendah dibandingkan Desember 2024 yang mencapai US$2,379 miliar.
Nilai ekspor sawit Januari 2025 berkontribusi sekitar 10,9% dari total ekspor non-migas Indonesia yang mencapai US$20,84 miliar. Penurunan ekspor ini berpotensi mempengaruhi pendapatan negara dari sektor sawit.
Dengan kondisi produksi, konsumsi, dan ekspor yang mengalami penurunan, stok minyak sawit pada akhir Januari 2025 mengalami kenaikan. Stok akhir tercatat sebesar 2,936 juta ton, meningkat 360 ribu ton dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 2,576 juta ton.***