Ester Sihite: Bekerja di Sawit Itu Punya Masa Depan, Jangan Hanya Lihat Jakarta!

Dalam program "Kabar Sawit", Ester Sihite, Head of HR Strategy & Talent Development PT REA Kaltim Plantations Group, membagikan pandangannya mengenai faktor-faktor yang memengaruhi minat generasi muda untuk berkarier di industri sawit serta upaya perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih menarik.

BERITA

Arsad Ddin

12 Maret 2025
Bagikan :


Ester Sihite, Head of HR Strategy & Talent Development PT REA Kaltim Plantations Group, saat jadi narasumber dalam program "Kabar Sawit" Hai Sawit x HIPKASI pada Selasa (19/02/2025).

Jakarta, HAISAWIT - Episode ketiga program "Kabar Sawit" yang tayang di YouTube Haisawit pada Selasa (19/02/2025) mengangkat tema kebutuhan tenaga kerja profesional di industri sawit. Salah satu narasumber, Ester Sihite, menyoroti tantangan dalam menarik minat generasi muda untuk berkarier di sektor ini.

Ester Sihite, Head of HR Strategy & Talent Development PT REA Kaltim Plantations Group, mengungkapkan bahwa jumlah tenaga kerja di Indonesia sebenarnya mencukupi kebutuhan industri sawit. Namun, tantangan utama terletak pada pola pikir generasi muda dan dukungan dari lingkungan terdekat mereka.

"Jika melihat jumlah angkatan kerja yang ada, sebenarnya peluang di industri sawit sangat besar. Namun, masih ada kekhawatiran dari mereka dan juga dari keluarga mereka. Ini yang perlu kita ubah," ujar Ester.

Ia menambahkan bahwa banyak orang tua yang sudah lama berkarier di perkebunan masih berharap anak-anak mereka mencari pekerjaan di kota. Hal ini karena mereka menganggap tinggal di perkebunan tidak memiliki perkembangan yang sebaik di perkotaan.

"Generasi muda saat ini lebih diajarkan bahwa semakin dekat dengan kota, semakin baik kariernya. Padahal, di perkebunan juga ada tantangan dan peluang besar untuk berkembang," tambahnya.

Ester juga menjelaskan bahwa untuk menarik minat anak muda bekerja di sektor sawit, perusahaan harus menciptakan lingkungan yang nyaman dan menarik. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa perusahaan perlu melakukan pendekatan yang lebih baik terhadap generasi muda, khususnya dalam aspek karier dan kesejahteraan.

"Ekspektasi mereka terhadap karier sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dulu seseorang bisa merencanakan kariernya dalam jangka panjang, sekarang mereka lebih fleksibel dan melihat berbagai opsi. Ini yang harus kita pahami agar mereka mau bertahan di industri sawit," jelasnya.

Dalam diskusi tersebut, Darus Salam juga menambahkan bahwa tantangan utama adalah bagaimana mengubah persepsi tentang bekerja di perkebunan. Ia menilai bahwa perlu ada strategi yang lebih kreatif untuk menarik minat generasi muda.

Dr. Chairul Hamdani, Managing Partner High Management Consultant, juga turut memberikan pandangannya dalam diskusi ini. Menurutnya, industri sawit harus beradaptasi dengan perubahan kebutuhan tenaga kerja agar tetap kompetitif dalam menarik SDM berkualitas.

Pembahasan mengenai tenaga kerja di sektor sawit terus menjadi perhatian, terutama dalam upaya memastikan keberlanjutan industri ini. Dengan strategi yang tepat, maka kedepannya akan lebih banyak generasi muda yang melihat perkebunan sebagai tempat berkembang dan membangun masa depan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya