ICOPE 2025, Lebih dari 500 Peserta Global Bahas Masa Depan Kelapa Sawit di Bali

Konferensi internasional ICOPE 2025 digelar di Bali dengan partisipasi ratusan delegasi dari berbagai negara untuk membahas solusi keberlanjutan dalam industri kelapa sawit.

BERITA

Arsad Ddin

13 Februari 2025
Bagikan :

International Conference on Oil Palm and the Environment (ICOPE) 2025 berlangsung di Bali pada Rabu-Jumat (12-14/02/2025). (Foto: wwf.id)

Jakarta, HAISAWITLebih dari 500 peserta dari berbagai negara berkumpul di Bali Beach Convention, Sanur, Bali, dalam International Conference on Oil Palm and the Environment (ICOPE) 2025. Konferensi ini membahas masa depan industri kelapa sawit dalam menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan iklim.

Dilansir laman WWF, Kamis (13/02/2025), acara ini dihadiri oleh akademisi, ilmuwan, pemerintah, pelaku industri, serta lembaga swadaya masyarakat. Para peserta berasal dari berbagai negara, termasuk India, Belanda, Perancis, Malaysia, Inggris, Finlandia, Kolombia, dan Spanyol.

Konferensi ini dibuka oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, yang menyampaikan pentingnya keberlanjutan dalam industri kelapa sawit. Ia menekankan bahwa sektor ini memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Dengan kerja sama semua pihak, industri kelapa sawit dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

"Jika bersama-sama kita bisa jalan jauh dan lebih cepat, keberlanjutan sawit ini merupakan telur emas bagi kita," ungkap Wamen Sudaryono.

Jean-Pierre Caliman, Co-Chairman ICOPE 2025, menyampaikan bahwa konferensi ini bertujuan untuk mencari solusi nyata bagi masa depan kelapa sawit.

“Kami di sini untuk berdiskusi, bertukar pandangan, dan mencari solusi kolektif demi masa depan industri kelapa sawit yang lebih baik dan cerah. Kelapa sawit tidak hanya merupakan bagian penting dari perekonomian global tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan iklim dunia,” tambah Caliman.

Franky O. Widjaja, Chairman and CEO Sinar Mas Agribusiness and Food, menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan industri kelapa sawit yang lebih berkelanjutan. Ia menekankan bahwa praktik pertanian yang bertanggung jawab harus terus dikembangkan.

Dewi Lestari Yani Rizki, Direktur Konservasi Yayasan WWF Indonesia, mengatakan bahwa industri kelapa sawit dapat berkembang dengan prinsip keberlanjutan.

"Kami meyakini industri kelapa sawit dapat bertransformasi menjadi bisnis sustainable ke depan untuk mendukung capaian Pemerintah Indonesia yaitu penurunan emisi karbon dan juga menyelamatkan keanekaragaman hayati."

Ia menambahkan pentingnya penerapan tata kelola yang baik dalam industri kelapa sawit.

"Untuk itu perlu keseriusan bagi industri kelapa sawit untuk menerapkan tata kelola menuju keberlanjutan agar bisa menjawab tantangan pasar global."

Jean-Marc Roda, Direktur Regional CIRAD, menekankan bahwa ICOPE menjadi platform penting bagi penelitian ilmiah dalam sektor kelapa sawit.

“ICOPE berupaya menjadi katalis perubahan. Kami percaya acara ini adalah tempat terbaik bagi para peneliti untuk berbagi data dan rekomendasi terkini untuk memandu evolusi sektor kelapa sawit.”

Ia juga optimis terhadap kolaborasi yang berkelanjutan dalam industri ini, terutama dalam menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi. Dengan berbasis pada penelitian ilmiah terbaru, kerja sama lintas sektor dapat membawa perubahan positif bagi industri kelapa sawit dalam jangka panjang.

Konferensi ini berlangsung hingga Jumat (14/02/2025) dengan berbagai diskusi yang menyoroti inovasi, kebijakan, dan praktik terbaik dalam pengelolaan kelapa sawit. Melalui kerja sama lintas sektor, ICOPE 2025 menjadi wadah untuk memperkuat langkah konkret dalam menghadapi tantangan keberlanjutan industri kelapa sawit di masa depan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya