Bu Sutiyem, petani perempuan dari keluarga transmigran Jawa di Sumatra Utara, berhasil mengelola kebun kelapa sawit dengan sertifikasi RSPO dan aktif memberdayakan petani perempuan melalui pelatihan berkelanjutan.
Arsad Ddin
1 April 2025Bu Sutiyem, petani perempuan dari keluarga transmigran Jawa di Sumatra Utara, berhasil mengelola kebun kelapa sawit dengan sertifikasi RSPO dan aktif memberdayakan petani perempuan melalui pelatihan berkelanjutan.
Arsad Ddin
1 April 2025Bu Sutiyem mencatat hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) dengan teliti untuk memastikan keakuratan data dan perencanaan kebun yang lebih baik. (Foto: Doc. PT SMART Tbk)
Langkat, HAISAWIT – Di pelosok Sumatra Utara, Bu Sutiyem, seorang petani perempuan berusia 52 tahun, mengelola kebun kelapa sawit dengan luas lebih dari 300 hektar. Beliau adalah anggota Koperasi Jasa Sawit Lepan Jaya (KJSLJ), yang beranggotakan 250 petani sawit independen. Pada tahun 2024, KJSLJ berhasil meraih sertifikasi RSPO, yang menunjukkan komitmen mereka terhadap pertanian berkelanjutan.
Lahir dari keluarga transmigran Jawa, Bu Sutiyem sudah terbiasa dengan kerja keras di tanah pertanian sejak kecil. Awalnya, keluarganya bertani padi, lalu beralih ke karet. Ketika harga karet turun drastis pada 2008, Bu Sutiyem dan suaminya memutuskan untuk mencoba bertani kelapa sawit.
Meski awalnya tak banyak tahu tentang kelapa sawit, Bu Sutiyem belajar secara perlahan dengan bertanya pada petani sekitar. Keputusan ini akhirnya membuahkan hasil. Kini, beliau mengelola kebun sawit dengan baik dan berhasil meraih sertifikasi RSPO, yang membuktikan usaha kerasnya dalam menjalankan pertanian berkelanjutan.
"Setelah bergabung dengan program ini, akhirnya saya mengerti apa arti keberlanjutan – tidak hanya untuk lahan, tetapi juga untuk mata pencaharian kami," ujar Bu Sutiyem, dikutip laman PT SMART Tbk, Selasa (01/04/2025).
Proses perubahan yang dialami Bu Sutiyem tak lepas dari dukungan program peningkatan kapasitas dari Sinar Mas Agribusiness and Food, yang memberinya pelatihan pertanian berkelanjutan. Di antaranya, teknik pemupukan yang efisien dan pengelolaan kebun yang lebih baik.
“Perubahan-perubahan kecil ini mengubah cara kami bertani,” tambah Bu Sutiyem. Dengan pelatihan yang didapat, beliau kini lebih paham tentang pentingnya efisiensi dan keberlanjutan dalam bertani.
Selain itu, Bu Sutiyem juga aktif membimbing petani perempuan lainnya. Ia memberikan saran dan mendorong mereka untuk bergabung dengan koperasi dan mengadopsi praktik berkelanjutan. Sebagai hasilnya, kini ada 16 perempuan yang aktif menjadi anggota KJSLJ.
"Saya tahu betul betapa sulitnya bertani sendirian," kata Bu Sutiyem. Dengan semangatnya, ia berharap petani perempuan lainnya bisa mengikuti jejaknya dan meraih keberhasilan serupa.
Bagi Bu Sutiyem, memberdayakan perempuan dalam pertanian bukan hanya soal peningkatan kemampuan bertani. Ia percaya bahwa perempuan yang kuat akan memperkuat komunitas secara keseluruhan.
"Saya berharap lebih banyak petani perempuan mengambil jalan ini. Kami tidak hanya menanam minyak kelapa sawit. Kami memupuk peluang untuk masa depan," ujarnya.
Kini, Bu Sutiyem dan para petani lainnya tidak hanya memperoleh penghasilan lebih baik, tetapi juga diakui karena kontribusinya dalam praktik pertanian berkelanjutan. Hal ini menjadi bukti bahwa petani perempuan mampu mengubah wajah industri sawit.
Selain mengelola kebun sawit, Bu Sutiyem juga aktif mengikuti pertemuan koperasi untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam pengalokasian dana. Dana tersebut digunakan untuk proyek infrastruktur desa, seperti pembangunan jalan.
Keberhasilan KJSLJ meraih sertifikasi RSPO menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan kolaborasi, petani kecil dapat memperbaiki kualitas hidup mereka. Lebih dari 9.000 petani kelapa sawit telah memperoleh pelatihan melalui program Sawit Terampil.
Bagi Bu Sutiyem, keberlanjutan tidak hanya terkait dengan pengelolaan tanah. Ia berharap anak-anaknya dapat terus melanjutkan usaha pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Melalui perjalanan panjangnya, Bu Sutiyem telah membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi agen perubahan dalam industri sawit. Tidak hanya mengelola kebun, tetapi juga memberdayakan sesama perempuan di komunitasnya.
Kisah Bu Sutiyem menjadi contoh inspiratif bagi petani lainnya, terutama perempuan, untuk tidak takut mengambil langkah perubahan dan beradaptasi dengan tantangan baru demi masa depan yang lebih baik.***