
Biogas Power Plant TSE Group di Papua Selatan mengolah limbah cair kelapa sawit (POME) menjadi energi terbarukan. Investasi fasilitas ini mencapai USD 3,6 juta. (Foto: TSE Group)
Papua Selatan, HAISAWIT - Pembangunan Biogas Power Plant pertama di Papua Selatan segera rampung dalam waktu dekat. Fasilitas ini dibangun oleh Tunas Sawa Erma (TSE) Group di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Pabrik biogas ini memiliki total investasi sebesar USD 3,6 juta. Fasilitas ini menggunakan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) untuk menghasilkan energi terbarukan.
Direktur TSE Group, Luwy Leunufna, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Kita bangun pabrik biogas yang investasi di awal tentu akan besar. Tapi dalam jangka panjang kita akan mengurangi penggunaan BBM di seluruh aktivitas kebun dan pabrik," ujar Luwy, dikutip Jumat (21/03/2025).
Ia menambahkan, fasilitas ini juga akan dikoneksikan dengan BioCNG untuk memaksimalkan manfaat energi terbarukan yang dihasilkan.
"Dengan pengembangan Biogas Power Plant yang dikoneksikan dengan BioCNG dalam jangka panjang pasti ada bermanfaat bagi perusahaan maupun lingkungan," lanjutnya.
Fasilitas ini memiliki dua tangki biogas berkapasitas 7.800 meter kubik. Kapasitas tersebut mampu menghasilkan listrik sebesar 2 MW untuk mendukung operasional Palm Kernel Crushing Plant dan aktivitas lainnya.
TSE Group juga menargetkan pengurangan emisi karbon hingga 60.708 ton CO2 per tahun. Langkah ini menjadi bagian dari upaya global dalam mencapai Net Zero Emissions pada 2050.
Selain membangun Biogas Power Plant, TSE Group juga menjalankan beberapa strategi lain. Di antaranya adalah penggunaan kendaraan listrik, transisi bahan bakar biodiesel dari B30 ke B50, serta pemasangan panel surya.
"Melalui komitmen Net Zero Emissions kita ingin mencoba menyeimbangkan emisi yang sudah dirilis. Karena itu kita melakukan serangkaian aktivitas seperti pembangunan Biogas Power Plant- BioCNG, menggantikan penggunaan alat berat berbahan bakar minyak dengan EV, shifting secara perlahan dari B30 ke B40 dan B50 sesuai dengan peraturan pemerintah," kata Luwy.
Ia menambahkan, upaya ini merupakan bagian dari intervensi strategis perusahaan untuk mencapai emisi netral.
"Intinya adalah bagaimana kita lakukan intervensi secara efektif untuk membuat emisi kita menjadi netral atau yang kita tahu sebagai net zero," tuturnya.
Pembangunan fasilitas biogas ini juga sejalan dengan upaya Indonesia dalam memenuhi komitmen Perjanjian Paris. Indonesia telah meratifikasi perjanjian tersebut dan berkomitmen mengurangi emisi karbon melalui nationally determined contributions (NDC).
Ke depan, TSE Group berencana membangun fasilitas biogas serupa di lima lokasi lain dalam unit perusahaan mereka. Rencana ini tertuang dalam TSE Group Emission Reduction Roadmap sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.***