Dalam seminar nasionalnya, IPB University mengungkapkan urgensi integrasi sektor hulu dan hilir dalam industri sawit serta pengembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan industri tersebut di Indonesia.
Arsad Ddin
2 April 2025Dalam seminar nasionalnya, IPB University mengungkapkan urgensi integrasi sektor hulu dan hilir dalam industri sawit serta pengembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan industri tersebut di Indonesia.
Arsad Ddin
2 April 2025(Foto; ipb.ac.id)
Bogor, HAISAWIT - IPB University menggelar seminar nasional yang membahas strategi huluisasi dan hilirisasi sawit. Seminar ini menghadirkan pakar, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk membahas potensi sawit sebagai komoditas strategis perekonomian Indonesia.
Prof. Bayu Krisnamurthi, Guru Besar Departemen Agribisnis IPB University, menjelaskan pentingnya sektor hilir. Ia menyebutkan, keberlanjutan hilirisasi bergantung pada peningkatan produktivitas sektor hulu.
“Sawit adalah contoh nyata keberhasilan industrialisasi Indonesia di sektor pertanian. Namun, keberlanjutan dan peningkatan produktivitas di sektor hulu menjadi kunci agar hilirisasi memberikan manfaat optimal,” ujar Prof. Bayu, dikutip laman IPB, Rabu (02/04/2025).
Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, juga mengungkapkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan oleh pihak universitas. Salah satunya adalah pemetaan berbasis citra satelit yang diterapkan pada 854.000 hektare lahan sawit.
“IPB University telah mengembangkan teknologi pemetaan unsur hara berbasis citra satelit yang telah diterapkan di 854.000 hektare lahan sawit. Teknologi ini meningkatkan efisiensi pemupukan hingga 30 persen, memperkuat sektor hulu, serta mendukung hilirisasi yang lebih kompetitif,” jelasnya.
Prof. Rachmat Pambudy, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (PPN/Bappenas) dan Guru Besar Departemen Agribisnis IPB University, juga memberikan pandangan tentang peran sawit dalam perekonomian dan ketahanan energi nasional. Ia menekankan potensi sawit dalam mendukung ekonomi sirkular dan pengurangan emisi karbon.
“Sawit tidak hanya menopang pertumbuhan ekonomi dan energi nasional, tetapi juga menjadi komoditas unggulan dalam mendorong implementasi ekonomi sirkular dan rendah karbon,” ujar Prof. Rachmat.
Seminar ini menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, termasuk penguatan peran petani plasma melalui kemitraan strategis dan sertifikasi ISPO. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keberlanjutan dan daya saing produk sawit.
IPB University juga menekankan perlunya dukungan kelembagaan untuk petani sawit. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah regulasi kawasan hutan yang kerap menghambat perkembangan industri sawit.
Integrasi riset dengan kebutuhan industri menjadi salah satu topik utama. Riset yang relevan diharapkan dapat mempercepat hilirisasi dan meningkatkan efisiensi di sektor sawit.
Prof. Bayu mengingatkan pentingnya integrasi antara sektor hulu dan hilir. Tanpa dukungan yang kuat dari sektor hulu, hilirisasi hanya akan menghasilkan ketimpangan nilai tambah.
Seminar ini menjadi ajang untuk memperkuat peran sawit dalam ekonomi Indonesia. Diharapkan, kolaborasi antara dunia akademik, industri, dan pemerintah dapat mendukung industri sawit yang lebih berkelanjutan dan efisien.***