-
April
18 Februari 2024-
April
18 Februari 2024Bandung - PT Astra Agro Lestari (AALI) mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 1,5 triliun pada tahun 2024. Sebagian besar anggaran akan digunakan untuk replanting atau regenerasi perkebunan kelapa sawit.
Belanja modal Astra Agro Lestari tidak jauh berbeda dengan tahun 2023, berkisar antara Rp 1,5 triliun hingga Rp 1,7 triliun dengan kebutuhan paling besar adalah replanting kelapa sawit.
Santosa, Direktur Utama Astra Agro Lestari, mengatakan selain replanting, belanja modal terbesar adalah untuk merawat tanaman yang belum menghasilkan.
“Capex kalau rencana kita sekitar Rp 1,5 triliun di 2024, tapi kalau kita lihat alokasi terbesar ya untuk replanting dan perawatan tanaman yang belum menghasilkan,” ujarnya saat Talk To CEO 2024 pada Jumat, 16 Februari 2024.
Santosa mengatakan, perusahaan menargetkan program replanting sekitar 5.000 hingga 6.000 hektar perkebunan kelapa sawit setiap tahunnya. Hal ini untuk memastikan produksi minyak sawit perseroan tidak mengalami penurunan yang berlebihan.
“Dengan demikian, saya masih bisa bagi dividen. Ini perusahaan sudah 35 tahun enggak boleh enggak bagi dividen,” lanjutnya.
Ia melanjutkan, Program replanting perkebunan kelapa sawit bertujuan untuk menstabilkan produksi perusahaan yang stagnan bahkan menurun akibat bertambahnya umur pohon kelapa sawit. Replanting akan memakan waktu setidaknya tiga tahun.
Astra Agro Lestari telah berdiri selama 36 tahun dan memiliki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 210.000 hektar. Santosa mengatakan sepertiga dari total perkebunan kelapa sawit perusahaan ditanam antara tahun 1994 hingga 1997 dan sudah melewati puncak produksi sehingga perlu diperbarui.
Santosa menjelaskan, replanting tersebut menyasar pada tanaman kelapa sawit dengan produktivitas rendah. Istilah hasil mengacu pada perhitungan produktivitas suatu tanaman kelapa sawit per hektar dalam jangka waktu tertentu.
“Tergantung pada yield rata-rata Astra Agro, saat ini yang di-replanting adalah yang yield-nya di bawah rata-rata, sehingga ke depan stabilize di situ sampai tanaman mudanya mulai menghasilkan, nah itu baru nanti kita beralih lebih agresif,” jelasnya.
Ia mengatakan setidaknya diperlukan tiga siklus untuk menstabilkan produksi minyak sawit. Sambil menunggu stabilisasi, Astra Agro Lestari akan memastikan pertumbuhan produksi yang berkelanjutan, termasuk melalui pembelian tandan buah segar (TBS) dari mitra eksternal.
Produksi Astra Agro Lestari meningkat sekitar 4,5-5% pada tahun lalu. Namun Santosa mengatakan kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan karena target produksi pada tahun 2022 yang rendah dan kembali normal pada tahun 2023.
“Kenapa jelek (produksi) tahun lalu, begitu ada export ban, supaya saya masih bisa menerima buah dari luar, walaupun enggak maksimal,” tutup Santosa.