Indonesia perkuat peran kelapa sawit sebagai komoditas strategis dalam menghadapi tantangan global melalui pertemuan SOM ke-28 CPOPC
Arsad Ddin
2 Desember 2024Indonesia perkuat peran kelapa sawit sebagai komoditas strategis dalam menghadapi tantangan global melalui pertemuan SOM ke-28 CPOPC
Arsad Ddin
2 Desember 2024Ilustrasi Sawit (Foto: Tangkapan Layar YT Haisawit TV)
Jakarta, HAISAWIT – Di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut, sektor kelapa sawit kembali menegaskan perannya sebagai komoditas strategis. Hal ini menjadi sorotan utama dalam pertemuan Senior Officials Meeting (SOM) ke-28 Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) yang digelar secara hybrid pada Kamis, (28/11/2024).
Acara yang berlangsung di Jakarta ini dihadiri oleh delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Honduras sebagai anggota penuh CPOPC. Selain itu, hadir pula negara-negara pengamat seperti Kolombia, Ghana, dan Papua Nugini, serta negara tamu seperti Nigeria dan Thailand.
Plt. Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, menekankan pentingnya peran kelapa sawit bagi perekonomian global.
“Kelapa sawit bukan hanya komoditas penting bagi Indonesia, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan energi global dan menciptakan lapangan kerja yang besar, terutama di negara-negara produsen sawit,” ujarnya, seperti dilihat pada laman resmi Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Senin (02/12/2024).
Ketidakpastian pasar minyak sawit akibat regulasi seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) menjadi tantangan serius bagi negara-negara penghasil minyak sawit.
“Penundaan yang diusulkan selama 12 bulan ini memberi kesempatan bagi negara-negara produsen minyak sawit untuk memperkuat upaya agar produk kita diterima di pasar global," seperti disampaikan Ketua Delegasi Indonesia.
Indonesia juga menyerukan percepatan aksesi negara-negara pengamat menjadi anggota penuh CPOPC.
“Kami mengajak negara-negara pengamat untuk mempercepat proses aksesi mereka, dan kami menyambut baik Nigeria yang telah mengajukan permohonan untuk menjadi anggota CPOPC,” ujar Ketua Delegasi Indonesia.
Tak hanya itu, Indonesia menekankan pentingnya penelitian berbasis bukti untuk mendukung kampanye positif kelapa sawit.
“Kami berharap hasil penelitian tentang kelapa sawit dapat disebarkan lebih luas, termasuk melalui publikasi di jurnal internasional terakreditasi,” tambahnya.
Pertemuan ini juga menjadi momen untuk mengajak generasi muda berkontribusi dalam keberlanjutan sektor kelapa sawit.
“Penting untuk melibatkan generasi muda dalam mendorong inovasi dan praktik berkelanjutan di sektor kelapa sawit,” ujar Ketua Delegasi.
CPOPC diharapkan dapat memberikan solusi konkret untuk tantangan global sektor kelapa sawit, termasuk isu lingkungan dan ketenagakerjaan.
“Kami berharap CPOPC dapat mengidentifikasi tantangan-tantangan tersebut dan memberikan rekomendasi berbasis riset untuk mengatasi masalah ini,” tambah Ketua Delegasi.
Optimisme terhadap masa depan kelapa sawit sebagai komoditas strategis pun terus menguat.
“Kami percaya program-program yang dibuat oleh CPOPC akan membantu negara-negara penghasil minyak sawit untuk mengatasi tantangan rantai pasokan dan memberikan kontribusi positif terhadap pemulihan global yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Pertemuan SOM ke-28 ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat kolaborasi global dan mendukung keberlanjutan sektor kelapa sawit di tengah dinamika global yang penuh tantangan.***